Setelah belajar dengan Imam Syafi'i, Imam Ahmad mampu secara mandiri merumuskan pendapat sendiri dalam fikih. Imam Ahmad menjadi seorang ahli hadits sekaligus ahli fikih yang banyak dikunjungi oleh murid-murid dari berebagai penjuru negeri Islam. Terutama setelah Imam Syafii wafat di tahun 820, Imam Ahmad seolah-olah menjadi satu-satunya sumber
Namada Biogfi Abu Amru Abdurrahman Al-Auza’i. Nama sebenarnya adalah Abu ‘amr Abdurahman bin amr Asy Syamy ad Dimasqy. Ia seorang fiqh di Syam di masanya. Dilahirkan pada tahun 88 H. Penduduk Syam dan Maghribi bermadzhabkan beliau sebelum bermadzhab dengan Malik. Beliau seorang Ulama Tabi’it Tabi’in, menerima hadits dari golongan Tabi
Thabaqat al Mufassirin (biografi para ahli tafsir), Mutasyabih al Qur-an, Manahil al Shafa fi Takhrij al Ahadits al Syifa, Muqhamat al Aqran fi Mubhamat al Qur-an (menjelaskan nama-nama yang tidak dikenal dalam AL-Quran) Jazil al Mawahib fi Ikhtilaf al Mazahib (ushul fiqh). Imam As-Suyuthi wafat pada usia 61 tahun pada malam Jum’at 19 Jumadil
Pemikiran-pemikiran Imam Al Juwaini tidak hanya terbatas pada kalam dan teologi saja, tetapi juga dalam fikih dan ushul fikih. Bahkan Imam Al-Juwaini merupakan peletak dasar tentang kajian maqashid syari’ah, yang kemudian menjadi sebuah disiplin ilmu baru. Al Juwaini merupakan ulama yang melahirkan ulama-ulama besar, seperti Imam Abu Hamid al
Assalamualaikum Wr. Wb., Sobat Muslim. Selamat datang di artikel yang akan mengulas tentang biografi Imam Al Auza’i, seorang tokoh penting dalam dunia keislaman. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara detail mengenai kehidupan dan kontribusi beliau dalam memperkuat pemahaman agama Islam. Teruslah membaca untuk mengetahui lebih banyak tentang sosok Imam Al Auza’i yang penuh
BiografiImam Malik. Nama: Mâlik bin Anas bin Mâlik bin Abi Âmir bin Amru bin Al Harits bin ghailân bin Hasyat bin Amru bin Harits. Kunyah beliau: Abu Adbillah. Nasab beliau: 1. Al Ashbuhi; adalah nisbah yang di tujukan kepada dzi ashbuh, dari Humair. Al Auza’I apabila menyebut Imam Malik, dia berkata; ” ‘Alimul ‘ulama, dan
Preaching: After completing his studies, he was appointed as a preacher in Eastern countries like Khurasan and others along with Hazrat Nasafi.That period when Hazrat Sijistani was preaching is known as Golden Age in the history of preaching of Ismaili religion, because by that time, Hazrat Imam Mahdi had appeared in the West according to the following Hadith "The sun will rise in the West
ImamSyafii, “Pagi hariku adalah saat-saat pergi meninggalkan dunia, perpisahan dengan sanak saudara, jauh dari gelas tempat melepas dahaga, kemudian aku akan menghadap Allah. Aku tidak tahu kemana ruhku akan pergi, apakah ke surga dan aku pun selamat ataukah ke neraka dan aku pun berduka.”. Kemudian beliau menangis.
8EdMjCx. Masjid Malacca Straits di Malacca, Malaysia Abu Amru Abdurrahman bin Amru bin Muhammad al-Auza’i ad-Dimasyqi adalah ulama dari Syam yang kemudian berpindah ke ke Beirut sampai wafatnya, yang mendapat julukan Syaikhul Islam. Beliau dikenal dengan nama nisbahnya, Al-Auza’i, nisbah ke daerah Al-Auza’, salah satu wilayah di Damaskus. Beliau dilahirkan pada tahun 88 H tatkala sebagian para sahabat Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam masih hidup, beliau mengalami masa kanak-kanak dalam keadaan yatim. Namun, sejak kecil, beliau senantiasa berusaha memperbaiki diri. Sebagaimana layaknya ulama lainnya, beliau melakukan perjalanan menuju Yamamah dan Bashrah sebagai petualangan dalam menuntut ilmu. Masa Muda Al-Auza’i Al-Abbas bin al-Walid bercerita bahwa guru-gurunya berkata, bahwa al-Auza’i bercerita, “Ayahku meninggal ketika aku masih kecil. Pada suatu hari aku bermain-main dengan anak-anak sebayaku, maka lewatlah seseorang dikenal sebagai seorang syaikh yang mulia dari Arab, lalu anak-anak lari ketika melihatnya, sedangkan aku tetap di tempat. Lantas Syaikh tersebut bertanya kepadaku, “Kamu anak siapa?”; maka saya menjawabnya. Kemudian dia berkata lagi, “Wahai anak saudaraku, semoga Allah merahmati ayahmu.” Lalu dia mengajakku kerumahnya, dan tinggal bersamanya sehingga aku baligh. Dia mengikutsertakan aku dalam dewan kantor/mahkamah pengadilan untuk bermusyawarah dan juga ketika pergi bersama rombongan ke Yamamah. Tatkala aku sampai di Yamamah, aku masuk ke dalam masjid jami’. Pada waktu keluar masjid ada seorang temanku berkata kepadaku, “Saya melihat Yahya bin Abi Katsir salah seorang ulama Yamamah kagum kepadamu; dan dia mengatakan, Tidaklah saya melihat di antara para utusan itu ada yang lebih mendapatkan petunjuk daripada pemuda itu!’” Al-Auza’i berkata, “Kemudian aku bermajelis dengannya dan menulis ilmu darinya hingga 14 atau 13 buku, kemudian terbakar semuanya.” Beliau adalah orang yang pertama kali menulis buku ilmu di Syam. Beliau adalah orang yang menghidupkan malamnya dengan shalat lail, membaca al-Qur’an dan menangis. Bahkan sebagian penduduk kota Beirut bercerita bahwa pada suatu hari ibunya memasuki rumah al-Auza’i dan memasuki kamar shalatnya, maka dia mendapati tempat shalatnya basah karena air mata tangisan malam harinya. Guru dan murid Al-Auza’i Beliau mengambil hadis dari Atha’ bin Abi Rabah, Qasim bin Makhimarah, Syaddad bin Abu Ammar, Rabi’ah bin Yazid, Az-Zuhri, Muhammad bin Ibrahim At-Taimi, Yahya bin Abi Katsir, dan sejumlah ulama besar dari kalangan tabiin lainnya. Diceritakan juga bahwa beliau sempat mengambil hadis dari Muhammad bin Sirin di waktu Muhammad bin Sirin sakit. Sementara, daftar para ulama yang menjadi murid beliau antara lain Syu’bah, Ibnu Mubarak, Walid bin Muslim, Al-Haql bin Ziyad, Yahya bin Hamzah, Yahya Al-Qaththan, Muhammad bin Yusuf, Al-Faryabi, Abu Al-Mughirah, dan sejumlah ulama lainnya. Pujian-pujian untuk Al-Auza’i Selama hidupnya, Imam Al-Auza’i lebih banyak disibukkan dengan berdakwah dan mengajarkan ilmu. Abu Zur’ah mengatakan, “Pekerjaan beliau adalah menulis dan membuat risalah. Risalah-risalah beliau sangat menyentuh.” Walid bin Mazid mengatakan, “Saya belum pernah melihat beliau tertawa terbahak-bahak. Apabila beliau menyampaikan kajian yang mengingatkan akhirat, hampir tidak dijumpai hati yang tidak menangis.” Beliau juga mengatakan, “Saya belum pernah melihat orang yang lebih rajin beribadah melebihi Al-Auza’i.” Al-Haql mengatakan, “Al-Auza’i telah menjawab dan menjelaskan permasalahan.” Sementara, Al-Kharibi mengatakan, “Al-Auza’i adalah manusia terbaik di zamannya. Beliau layak untuk mendapat jabatan khilafah.” Bisyr bin Mundzir mengatakan, “Saya melihat Al-Auza’i seperti orang buta, karena khusyuknya.” Disebutkan bahwa beliau menghidupkan malamnya dengan salat dan membaca Alquran sambil menangis. Nasihat-nasihat Al-Auza’i Beliau pernah mengatakan kepada Walid bin Mazid, “Apabila Allah menghendaki keburukan untuk suatu kaum, Allah membuka pintu suka berdebat’ dan Allah sulitkan mereka untuk beramal.” Beliau juga menjelaskan akidah ahlus sunnah, sebagaimana yang diceritakan oleh Muhammad bin Katsir Al-Mashishi, bahwa beliau mendengar Al-Auza’i mengatakan, “Kami dan para tabiin, semuanya, berpendapat bahwa Allah berada di atas Arsy, dan kami beriman terhadap semua keterangan tentang Allah yang terdapat dalam sunah.” Beliau menasihatkan agar manusia senantiasa berpegang dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana diriwayatkan Amir bin Yasaf, bahwa beliau mendengar Al-Auza’i mengatakan, “Apabila kamu mendengar hadis dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, janganlah kamu mengambil pendapat orang lain, karena beliau adalah mubalig penyampai berita dari Allah.” Beliau juga menasihatkan, “Tidaklah seseorang berbuat bid’ah kecuali pasti akan dicabut sifat wara’-nya”. Dari Abu Ishaq Al-Fazari, bahwa Al-Auza’i menasihatkan, “Ada lima hal yang dipegangi para sahabat dan tabiin berpegang teguh dengan jamaah pemerintah, mengikuti sunah, memakmurkan masjid rajin shalat berjamaah, membaca Alquran, dan berjihad.” Ibnu Syabur mengatakan bahwa Al-Auza’i pernah menasihatkan, “Barang siapa yang mencari-cari pendapat-pendapat aneh yang menyimpang dari para ulama, niscaya dia akan keluar dari Islam.” Walid bin Mazid menceritakan bahwa Al-Auza’i mengatakan, “Celakalah orang yang mendalami ilmu untuk masalah selain ibadah dan orang yang berusaha menghalalkan hal yang haram dengan syubhat.” Beliau juga pernah berpesan dengan satu perkataan yang indah dan cukup terkenal, sebagaimana diriwayatkan oleh Walid bin Mazid; beliau mendengar Al-Auza’i mengatakan, عَلَيكَ بِآثَارِ مَن سَلَفَ وَإِن رَفَضَكَ النّاسُ وَإِيّاكَ ورَأيَ الرِّجَال وَإِن زَخْرَفُوهُ بِالقَولِ فَإِنَّ الأَمرَ يَنجَلِي وَأَنتَ عَلَى طَرِيقٍ مُستَقِيم “Berpegang-teguhlah dengan atsar riwayat para ulama salaf, meskipun masyarakat menolakmu. Jangan mengikuti pemikiran manusia, meskipun mereka menghiasi ucapannya. Sesungguhnya, semua perkara akan tampak dalam keadaan engkau berada di jalan yang lurus.” Wafatnya Al-Auza’i Muhammad bin Ubaid sedang bersama Sufyan ats-Tsauri ketika datang seorang laki-laki, dia berkata, “Saya bermimpi raihanah tumbuhan berbau harum yang berasal dari daerah Maghrib diangkat” Mendengar hal itu Sufyan ats-Tsauri menimpali, “Jika mimpimu benar maka sungguh al-Auza’i telah wafat.” Maka mereka menulis surat menanyakan hal itu, dan ternyata memang benar demikian. Sebab kematiannya, bahwa setelah beliau menyelesaikan pekerjaannya mengecat sesuatu dengan cat berwarna, kemudian masuk kamar mandi yang ada di rumahnya; sementara istrinya masuk bersamanya dengan membawa tabung yang berisi arang agar beliau tidak kedinginan di dalamnya. Istrinya menutup pintu kamar mandi tersebut. Ketika asap arang itu menyebar, beliau menjadi lemas. Beliau berusaha membuka pintu, tetapi tidak bisa. Kemudian beliau terjatuh, dan kami menemukannya dalam keadaan tangan menghitam dan menghadap ke arah kiblat. Abu Mushir berkata tentang kematian al-Auza’i, bahwa ketika dia berada dikamar mandi, istrinya menutup pintu kamar mandi tersebut tanpa sengaja, sehingga hal itulah yang menjadi penyebab kematiannya. Karenanya Sa’id bin Abdul Aziz memerintahkan istri al-Auza’i untuk membebaskan seorang budak. Beliau sangat dimuliakan oleh Khalifah Al-Manshur. Khalifah sangat memerhatikan nasihat-nasihat Al-Auza’i. Sampai akhirnya, beliau pernah ditawari untuk menjadi hakim oleh Khalifah, namun beliau menolaknya. Di akhir hayatnya, beliau berangkat ke Beirut dan melaksanakan tugas ribath menjaga daerah perbatasan dan meninggal dunia di sana. Warisan yang beliau tinggalkan ketika beliau wafat hanya enam dinar, dan itu merupakan sisa dari sedekah yang dia berikan. Beliau meninggal pada tahun 153 H, dan kebanyakan ulama berkata bahwa beliau meninggal pada tahun 157 H di bulan Shafar. Referensi - - - Adz-Dzahabi,Tadzkirah Al-Huffazh, Al-Maktabah Asy-Syamilah, no. urut 177
His name is Abdurrahman Ibn Amr Ibn Yahya Al-Auza’i. He was known as Al Auza’i, the name attributed to the area of Al Auza’, one of the region in Damascus. He was born on year 88 H and he passed his childhood as an orphan. But since his early age, he always tried to be a better person. As other scholars, he journeyed to Yamama and Basra to seek for knowledge. Teachers and Students of Al Auza’i He learned hadith from Atha’ Ibn Abi Rabah, Qasim Ibn Makhimarah, Syaddad Ibn Abu Ammar, Rabi’ah Ibn Yazid, Az-Zuhri, Muhammad Ibn Ibrahim At-Taimi, Yahya Ibn Abi Katsir, and several other grand scholars from the tabeen generation. It is said that he also got a chance to learn hadith from Muhammad Ibn Sirin when Muhammad was sick. Whereas among the list of scholars that were his students ; Syu’bah, Ibn Mubarak, Walid Ibn Muslim, Al-Haql Ibn Ziyad, Yahya bin Hamzah, Yahya Al-Qaththan, Muhammad Ibn Yusuf, Al-Faryabi, Abu Al-Mughirah, and several other scholars. Praises for Al Auza’i During his lifetime, Imam Al Auza’i was more busied by activities of enjoining people to goodness and teaching knowledges. Abu Zur’ah said, “His works were writing and creating monograph. His monographs are very touching.” Walid Ibn Mazid said, “I’ve never seen him laugh out loud. When he delivered a lesson about the Hereafter, it was hard to encounter a heart that didn’t cry.” He also said, “I’ve never seen a man who is more diligent in worship than Al Auza’i.” Al Haql said, “Al Auza’i had answered and explained about problems.” Whereas Al Kharibi said, “Al Auza’i was the best man of his time. He deserved to be a caliph.” Bisyr Ibn Mundzir said, “I saw Al Auza’i as if he was a blind man, due to his devotion in worship, -ed.” It is said that he enlivened his night by performing prayer and reciting the Qur’an, crying. Advices of Al Auza’i There are some advices that Al Auza’i ever delivered, including He ever said to Walid Ibn Mazid, “If Allah wants evil for some people, Allah will open the door of argumentation fond of debate’ for them, -ed and Allah will make it hard for them to perform righteous deed.” He also explained about the creed of ahl sunnah, as storied by Muhammad Ibn Katsir Al Mashishi, that he heard Al Auza’i said, “We and the tabeen, all of us, believe that Allah is on His Great Throne, and we believe every information about Allah that is revealed in sunnah.” He advised people to always hold fast to the saying of the Prophet -peace and prayer of Allah be upon him-. As narrated by Amir Ibn Yasaf, that he heard Al Auza’i said, “If you heard a hadith from the Prophet -peace and prayer of Allah be upon him-, don’t take anyone else’s opinion, because he was the messenger of Allah.” He also advised, “No one does an innovation but his cautiousness wara’ will be deprived from him.” From Abu Ishaq Al Fazari, he said that Al Auza’i ever advised people, “There are five things that the companions and the tabeen were holding onto hold fast to the congregation the government, follow the sunnah, prosper the mosque praying diligently in congregation, read the Qur’an, and join the holy war jihad.” Ibn Syabur said that Al Auza’i once advised people, “Whoever tries to find strange opinions that deviated from the scholars’ way, surely he will come out of Islam.” Walid Ibn Mazid told that A Auza’i said, “Woe to those who study the science to issues other than worship and those who try to justify forbidden things by using doubtful opinions, -ed.” He also advised people with a beautiful and quite famous saying, as narrated by Walid Ibn Mazid; he heard that Al Auza’i said, عَلَيكَ بِآثَارِ مَن سَلَفَ وَإِن رَفَضَكَ النّاسُ وَإِيّاكَ ورَأيَ الرِّجَال وَإِن زَخْرَفُوهُ بِالقَولِ فَإِنَّ الأَمرَ يَنجَلِي وَأَنتَ عَلَى طَرِيقٍ مُستَقِيم “Hold fast to the atsar narration of the scholars of predecessors, although people might reject you. Do not follow the thought of men, although they adorned their words. Indeed, all matters will be seen while you are on the straight path.” The death of Al Auza’i He was highly respected by the caliph Al Manshur. The caliph paid close attention to Al Auza’i’s advices, to the extent that he offered him to be a judge, but he refused the offer. At the end of his life, he departed to Beirut and performed the duty of ribath guarding the frontier and he died there. The only inheritance he left were six dinars, and it was what left from the money he spent on charity. May Allah have mercy on Imam Al Auza’i. References ” Tadzkirah Al-Huffazh”, Adz Dzahabi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, serial number 177
We're sorry, but we can't find the page you were looking for. It's probably some thing we've done wrong but now we know about it and we'll try to fix it. In the meantime, try to go homepage Back to Homepage